Tampilkan postingan dengan label buruk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buruk. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Juni 2011

Membuat buruk budi pekerti merupakan suatu kebodohan

Banyak orang yang menyangka dirinya baik. Banyak pula tatkala mereka salah membela diri dengan berbagai alasan yang belum tentu benar. Dengan demikian berarti mereka membuat buruk budi pekertinya sendiri. Hal itu dilakukannya karena mereka terpengaruh oleh keadaan lahiriyah dirinya. Perbuatan yang mereka lakukan itu merupakan suatu kebodohan, karena mereka pasrah kepada hawa nafsu yang menyebabkan mereka melakukan kefasikan (maksiat).
Sebagai orang yang beriman! Kita tidak boleh seperti itu. Bila kita pernah seperti itu berarti kita pernah membuat buruk budi pekerti  jiwa ini. Dengan demikian berarti kita pernah melakukan suatu kebodohan. Sikap seperti itu tidak boleh kita ulangi lagi.
Untuk tidak mengulanginya maka jangan sampai kita tertipu oleh kedaan lahiriyah diri kita dan jangan pasrah kepada nafsu . Bila kita pasrah kepada nafsu berarti kita telah mengambil jalan kefasikan.
Allah mengilhamkan kepada jiwa kita jalan kefasikan dan jalan ketakwaan. Apabila kita memperburuk budi pekerti diri berarti kita mengambil jalan kefasikan.
Allah swt. berfirman:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),   Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (Q.S. Asy-Syams:7- 8).

Oleh karena itu kita harus menjaga jiwa dengan perilaku ketakwaan dan jangan sampai mengotorinya dengan perilaku kefasikan (dosa).
Allah swt. berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. Asy-Syams:9-10).

Ketahuilah! Bahwa membuat buruk budi pekerti merupakan tindakan tidak bermoral dan tindakan itu merupakan tindakan yang keluar dari ketaatan  kepada Allah.
Orang yang tidak taat kepada Allah berarti ia telah aniaya diri. Dan orang yang aniaya diri tidak akan mendapat bimbingan dari Allah swt. Sebagaimana firman-Nya:
وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Q.S.Al-Baqarah:258)

Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang membuat buruk budi pekerti diri dengan perilaku-perilaku tercela. Karena perilaku tercela merupakan perbuatan aniaya diri.
Apabila dalam jiwa kita muncul keinginan membuat buruk budi pekerti dengan berbagai macam perbuatan maksiat atau kefasikan (dosa) jangan dipraktekkan, karena Allah swt. tidak akan membimbing orang yang berbuat dosa. Sebagaimana firman-Nya:
وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (Q.S.At-Taubah:80)

Sebagai orang yang beriman kita harus hati-hati dan waspada terhadap perbuatan kefasikan (dosa), karena Allah senantiasa mengawasi kita.
Allah swt. berfirman:
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (Qaf:16)

Ketahuilah! Bahwa keinginan membuat buruk budi pekerti, meskipun masih kita  samarkan di dalam hati, juga diketahui oleh Allah. Sebagaimana firman-Nya:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ
Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. (Qaf:16)

Membuat buruk budi pekerti merupakan perbuatan maksiat. Bila kita lakukan maka tidak akan luput dari siksa (adzab) Allah. Karena Allah akan membalas semua amal yang kita lakukan.
Allah swt. berfirman:
إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.(Q.S.ath-Thur:16)

Dan bila kita membuat buruk budi pekerti berarti kita berpaling dari peringatan Allah (Al-Qur'an). Hal itu merupakan suatu kebodohan yang kita lakukan setelah kita menyarakan diri percaya (iman) kepada Al-Qur’an.
Allah swt. berfirman:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآَيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ
Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, Kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (Q.S.Assajdah:22).






Selasa, 08 Juni 2010

Orang-orang yang paling buruk di sisi Allah swt.

Orang yang taat pada Allah dan Rasul-Nya tidak akan pernah berpaling dari perintah-perintah-Nya. Hal itu dilakukan untuk menjaga takwaannya. Allah swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ
Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya). (QS.Al-Anfal:20)
Orang yang taat pada Allah dan Rasul-Nya tidak akan berlaku seperti orang munafik. Mereka suka berkata “Kami mendengarkan perintah-perintah-Mu Ya Allah”. Mereka itu mendengarkan perintah Allah dan Rasul-Nya akan tetapi hatinya mengingkarinya. Allah swt berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ
Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik) vang Berkata "Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan. (QS.Al-Anfal:21)
Sebai orang yang beriman kita dilarang meniru perilaku orang-orang munafik dan orang-orang kafir dan berucap seperti mereka, karena mereka termasuk orang-orang yang paling buruk disisi Allah swt. Allah menerangkan karakteristik (sifat) orang yang paling buruk di sisi-Nya. Hal itu dapat kita ketahui dalam surat Al-Anfal: ayat 22 dan 55:
إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun. (QS.Al-Anfal:22) Menurut ayat tersebut, orang munafik di dunia ini tidak pekak (bisu) dan tidak tuli, tetapi mereka pekak hatinya, tuli hatinya, dan buta hatinya, sehingga tidak dapat melihat kebenaran. o Mereka dikatakan tuli karena tidak mau mendengarkan dan memikirkan perkara yang hak. o Mereka dikatakan pekak (bisu) karena tidak mau berkata benar apalagi menerima kebenaran. o Mereka dikatakan sebagai orang yang tidak berakal karena tidak mau mendengar seruan Allah dan Rasul-Nya.
Mereka itu orang yang tidak mau mendengar, menuturkan dan memahami kebenaran. Allah mengetahui mereka, bahwa mereka itu orang yang tidak ada kebaikannya dan selalu berpaling dari-perintah-perintah-Nya. Hal itu dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:
وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ
Kalau sekiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. dan Jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu). (QS.Al-Anfal:23)
Termasuk juga orang yang paling buruk di sisi Allah selain orang munafik adalah orang-orang kafir. Allah swt.berfirman:
إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الَّذِينَ كَفَرُوا فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, Karena mereka itu tidak beriman. (QS.Al-Anfal:55)
Orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah swt itu berkta bahwa ayat-ayat Allah itu kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad saw. dan dibantu oleh orang-orang yang sudah masuk Islam. Hal itu dapat kita lihat dalam firman-Nya:
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آَخَرُونَ
Dan orang-orang kafir berkata: "Al Quran Ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad dan dia dibantu oleh kaum yang lain. (QS.Al-Furqan:4)
Mereka juga menyatakan bahwa ayat-ayat Allah itu dongeng orang dahulu. Sebagaimana Allah telah berfirman:
وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَى عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
Dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, Maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang." (QS.Al-Furqan:5) Banyak manusia yang buta dari petunjuk dan tidak dapat melihanya. Allah swt. berfirman:
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS.Al-Hajj:46)
Manusia itu mempunyai mata kepala dan mata hati. Mata kepala untuk kepentingan duniawi sedang mata hati untuk kepentingan ukhrawi. Bila mata kepala yang buta sedang mata hati tidak, maka kebutaan mata kepala tidak akan mempengaruhi sedikitpun pada dirinya. Tapi bila mata hati buta, mata kepala tidak buta, maka ketidakbutaan mata kepala tidak ada manfaatnya.